Nurhadi (kanan, batik biru) berdiskusi dengan Wahyu ketika berada di Kebun dan Cafe WAH (Wahyu Alam Herbal) (konsultasi herbal, kebun toga, peracikan herbal, pelatihan dan cafe herbal) berlokasi di Jalan Puskesmas, Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Selasa (15/3/2022). Foto : A Rudy Hertanto
Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi (akrab disapa Mas Hadi) dari Partai NasDem Dapil (daerah pemilihan) VI Jawa Timur meliputi Kediri, Tulungagung dan Blitar mengungkapkan, melihat potensi yang ada, perlu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang tentunya bermanfaat bagi kesehatan secara alami.
Demikian disampaikan Nurhadi disela berkunjung ke Kebun dan Cafe WAH (Wahyu Alam Herbal) (konsultasi herbal, kebun toga, peracikan herbal, pelatihan dan cafe herbal) berlokasi di Jalan Puskesmas, Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Selasa (15/3/2022).
“Kebetulan saya ditugaskan di Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan, termasuk mitra kami juga ada Badan POM RI (Badan Pengawasan Obat dan Makanan), saya sempatkan ke temen saya Mas Wahyu ini, yang punya kebun Toga Wahyu Alam,” kata Nurhadi.
“Disini ada ratusan tanaman yang Insya Allah berkhasiat untuk obat, saya datang ke sini ya ingin sharing, diskusi dengan Mas Wahyu ini sang pemilik Toga Wahyu Alam ini, apa yang menjadi kendala yang dihadapi selama ini,” sambungnya.
Sekaligus untuk langkah ke depannya yakni bertujuan mengedukasi masyarakat tentang betapa pentingnya pengetahuan tentang tanaman yang bisa berkhasiat untuk obat.
“Dalam waktu dekat ini kita akan bersinergi, kita kebetulan bermitra dengan beberapa media termasuk media radio, kami daulat beliau (Mas Wahyu) untuk mengisi acara di radio-radio jaringan itu untuk menyampaikan edukasi ke masyarakat terkait tanaman herbal ini,” urai Nurhadi.
“Tanaman yang berkhasiat obat atau herbal atau boleh dikata orang mengatakan jamu itu ya, ini sebenarnya satu punya nilai ekonomi, dari sisi masyarakat lebih hemat kalau mungkin flu, batuk, sakit itu nggak usah beli obat kimia, cukup mereka merebus sendiri meramu sendiri kalau mereka tahu, punya ilmu pengetahuan tentang tanaman yang berkhasiat obat,” lanjutnya.
Nurhadi menerangkan, “Saya mendorong mulai dari Kediri dengan Pak Wahyu, nanti kita akan bersinergi, kebetulan saya sangat mengapresiasi Pak Wahyu ini baru-baru ini berhasil bekerjasama dengan pihak LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dan juga Perhutani, memiliki sekitar 20 hektar tanaman herbal yang ada di lereng Gunung Kelud di sekitar Kecamatan Puncu (Kabupaten Kediri).”
“Masyarakat di beberapa titik desa yang sekiranya antusias dan berminat, kita ajak datang mengunjungi tanaman herbal kita atau toga kita yang ada di lereng Gunung Kelud ini, agar masyarakat ya bertahap akhirnya semua nanti tercerahkan lah betapa pentingnya kita itu punya toga di rumah,” imbuhnya.
Yuwono (akrab disapa Wahyu) owner Kebun dan Cafe WAH (Wahyu Alam Herbal) menyampaikan, “Terima kasih atas kehadiran Pak Nur itu teman lama kita, teman seperjuangan terkait dengan memajukan budaya, tapi jamu sendiri adalah termasuk juga salah satu budaya, warisan leluhur yang memang harus kita lestarikan.”
“Dan kita ada klik (sepakat) intinya adalah bagaimana agar lestari tanaman obat Indonesia,” ujarnya, sehingga Indonesia bisa menjadi tuan rumah untuk produk-produk atau pun tanaman obatnya.
“Kita nanti ke depannya adalah mewartakan seluruh apa potensi alam termasuk tanaman obat kita, agar lebih dikenal dimasyarakat, bisa dimanfaatkan dengan melakukan banyak pelatihan-pelatihan pada masyarakat, mengenalkan bagaimana cara meracik jamu, bagaimana cara menanam dan merawat tanaman obat,” papar Wahyu.
“Jadi harapannya kita dengan Pak Nurhadi adalah negara yang kuat adalah masyarakatnya sehat, masyarakat sehat salah satunya adalah minum jamu sebagai salah satu budaya,” pungkasnya. (A Rudy Hertanto)
